Label 3

Minggu, 23 Februari 2014

POTENSI DIRI

POTENSI DIRI

            Sebelum mengenali potensi diri kita alangkah baiknya jika kita mengetahui terlebih dahulu makan dari ptensi diri itu sendiri. Dari segi peristilahan, kata potensi berasal dari bahasa Inggris to patent yang berarti keras, kuat. Dalam pemahaman lain, kata potensi mengandung arti kekuatan, kemampuan, daya,baik yang belum maupun yang sudah terwujud, tetapi belum optimal. Sementara dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, yang dimaksud potensi adalah Pengertian potensi diri adalah kemampuan-kemampuan dan kualitas-kualitas yang dimiliki seseorang yang belum digunakan secara maksimal. Potensi diri pada dasarnya adalah kemampuan terpendam seseorang yang jika dikenali, dikembangkan, dan diaktualiasikan akan menjadi kemampuan nyata dalam kehidupan. Berbagai pengertian di atas, memberi pemahaman kepada kita bahwa potensi merupakan suatu daya yang dimiliki oleh manusia, tetapi daya tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, yang menjadi tugas berikutnya bagi manusia yang berpotensi adalah bagaimana mendayagunakan potensi tersebut untuk meraih prestasi.
            Salah satu indikator dari potensi diri seseorang adalah dengan melihat kecerdasan intelektual. Kecerdasan intelektual adalah bentuk kemampuan individu untuk berfikir,mengolah dan berrusaha untuk menguasai untuk lingkungannya secara maksimal secara terarah. Menurut Laurel Schmidt dalam bukunya Jalan pintas menjadi 7 kali lebih cerdas ( Dalam Habsari 2004 : 3) membagi kecerdasan dalam tujuh macam, antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Kecerdasan Visual / spasial (kecerdasan gambar) : profesi yang cocok untuk tipe kecerdasan ini antra lain arsitak, seniman, designer mobil, insinyaur,designer graffis, komputer, kartunis, perancang interior dan ahli fotografi.
  2. Kecerdasan verbal / linguistik (kecerdasan Berbicara): Profesi yang cocok baagi mereka yang memiliki kecerdasan ini antara lain: pengarang atau menulis, guru, penyiar radio, pemandu acara, presenter, pengacara, penterjemah, pelawak.
  3. Kecerdasan musik: Profesi yang cocok bagi yang memiliki ini adalah peenggubah lagu, pemusik, penyaanyi, disc jokey, guru seni suara, kritikus musik, ahli terapi musik, audio mixier( pemandu suara dan bunyi).
  4. Kecerdasan logis / matematis ( Kecerdasan angka): Profesi yang cocok bagi mereka yang memiliki kecerdasan ini adalah ahli metematika ,ahli astronomi, ahli pikir, ahli forensik, ahli tata kota , penaksir kerugian asuransi, pialang saham, analis sistem komputer, ahli gempa.
  5. Kecerdasan interpersonal (cerdas diri): Profesi yang cocok bagi mereka yang memiliki kecerdasan ini adalah ulama, pendeta, guru, pedagang, resepsionis,pekerja sosial, pekerja panti asuhan, perantara dagang, pengacara, manajer konvensi, ahli melobi, manajer sumber daya manusia.
  6. Kecerdasan intrapersonal (cerdas bergaul): profesi yang cocok bagi mereka yang memiliki kecerdasan ini adalah peneliti, ahli kearsipan, ahli agama, ahli budaya, ahli purbakala, ahli etika kedokteran.
Dari keenam kecerdasan di atas menurut saya, saya memiliki potensi di bidang kecerdasan interpersonal. Hal tersebut karena saya merasa saya mempunyai kemampuan yang lebih di bidang manajerial atau kepemimpinan karena saya selalu ingin menjadi yang paling baik dari yang lain. Saya juga merasa senang dalam kegiatan berorganisasi yang menuntut saya untuk belajar memimpin dan mengatur orang lain demi kemajuan organisasi tersebut. Saya juga berharap dengan potensi yang saya miliki ini natinya dapat menjadi midal awal bagi saya untuk merintis karir yakni menjadi wirausahawan di bidang jasa yaitu jasa transportasi. Saya akan menggunakan potensi yang saya miliki untuk mengatur pegawai-pegawai saya agar mereka dapat bekerja dengan maksimal.
Oleh karena itu saya juga akan terus berusaha mengembangkan potensi diri yang saya miliki ini. Karena pada dasarnya potensi perlu didayagunakan. Ibarat dalam memproduksi barang, potensi berperan seperti bahan mentah yang masih memerlukan pengolahan lebih lanjut untuk menghasilkan barang yang siap pakai. Agar membuahkan prestasi, potensi haruis diasah dan dilatih secara terarah dan berkesinambungan. Potensi tersebut akan saya kembangkan melalui berbagai cara salah satunya adalah melalui kegiatan berorganisasi. Karena dalam berorganisasi kita dilatih berbagai hal seperti tanggungjawab, kerja sama, dll. Saya juga akan melakukan hal-hal ini untuk mengembangkan potensi yang saya miliki, antara lain:
·      Menekuni bidang apa saja yang kita senangi.
Dalam hal ini saya akan mencoba untuk selalu menekuni apapun hal yang saya senangi dan nantinya dapat menambah dan mengembangkan potensi diri saya. Misalnya dalam berorganisasi saya akan selalu tekun dan menyelesaikan segala pekerjaan yang menjadi tanggung jawab saya.
·      Bertanya kepada orang terdekat.
Hal ini saya lakukan untuk bertanya kepada teman dekat maupun kakak tingkat yang mungkin sudah berpengalaman. Hal ini saya lakukan untuk mengetahui di mana letak kelebihan dan potensi diri saya yang dapat saya kembangkan nantinya.
·      Mencoba hal-hal baru.
Dalam hidup, seseorang alangkah baiknya memiliki tidak hanya satu potensi diri melainkan banyak potensi diri. Oleh karena itu untuk mendapat potensi diri kita harus berani untuk mencoba hal-hal baru yang mungkin belum kita ketahui sebelumnya. Maka dari itu saya akan berusaha untuk mencoba hal baru, misalnya saya tidak begitu berminat olahraga tapi saya akan mencoba untuk berolahraga.
·      Banyak membaca, melihat dan merasakan.
Membaca merupakan kebutuhan bagi setiap orang khususnya mahasiswa dengan membaca kita akan meperoleh banyak pengetahuan dan wawasan. Oleh karena itu saya akan mengembangkan potensi diri saya dengan salah satu caranya adalah membaca, terutama yang berkaitan dengan manajerial dan kewirausahaan. Selain membaca saya juga akan melihat, baik itu melalui televisi maupun melihat secara langsung orang-orang yang telah mencapai kesuksesan. Hal yang tak kalah penting adalah merasakan atau mempraktekan. Dalam hal ini mungkin saya belum mampu mempraktekan secara langsung dalam suatu perusahaan. Tapi setidaknya kita sudah berlatih untuk memanage diri kita sendiri dan organisasi.
Jadi pada hakikatnya, Potensi diri itu harus digali, sama seperti minyak bumi. Tidak ada minyak yang berada di atas tanah. Kita harus mencari lokasi yang tepat untuk menggali minyak. Kedalamannya pun tidak selalu sama. Ada yang cepat ditemukan, ada juga yang perlu menggali lama karena minyaknya ada jauh di kedalaman. Tidak ada manusia yang lahir ke dunia langsung menjadi ahli di bidang tertentu. Semua harus diraih dengan proses. Jika anda sudah tahu potensi diri anda, itulah modal kesuksesan. Jika anda bisa mengembangkan potensi anda menjadi prestasi, kesuksesan sudah menanti.


Daftar Pustaka:
Abidin, Zaenal. 2012.  Potensi diri dan macam-macamnya. Diperoleh dari  http://za-enal.blogspot.com pada 23 April 2013
Triagung. 2012.  Potensi Diri. Diperoleh dari http://triagung86.wordpress.com pada 23 April 2013
Yenikurniawati. 2012. Pengertian Potensi. Diperoleh dari http://petensidiri.blogspot.com pada 23 April 2013




Kurangnya Penghargaan Terhadap Orang-orang Berprestasi di Indonesia



Kurangnya Penghargaan Terhadap
Orang-orang Berprestasi di  Indonesia

            Indonesia merupakan negara yang kaya akan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia. SDA yang melimpah tidak akan berguna secara optimal tanpa peran dari SDM yang berkualitas. Indonesia dianggap sebagai negara dengan tingkat pendidikan yang rendah, sehingga SDA yang dimiliki Indonesia belum mampu dikelola secara optimal. Namun demikian tidak sedikit pula orang-orang indonesia yang berprestasi dan berkualitas, serta mungkin mampu untuk mengelola SDA Indonesia secara lebih baik. Tetapi para sarjana-sarjana dan ilmuwan-ilmuwan Indonesia memilih untuk melanjutkan pendidikan, berkarir, dan berkarya untuk negara lain.
            Sungguh ironis memang jika melihat kenyataan tersebut. Seharusnya dengan orang-orang berprestasi dan ilmuwan-ilmuwan di indonesia, mereka mampu membangun Indonesia menjadi lebih baik. Mereka lebih memilih hijrah keluar negeri dikarenakan kurangnya penghargaan bagi mereka, baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat. Selain kurangnya penghargaan, banyak faktorlain yang menyebabkan merek hijrah keluar negeri baik untuk belajar maupun berkarir. Faktor-faktor tersebut dapat dilihat dari sudut pandang ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan politik.
            Dari segi ekonomi, para ilmuwan maupun orang-orang berprestasi memilih untuk pergi keluar negeri, karena anggapan mereka bahwa pendapatan dan standar hidup luar negeri lebih tinggi dari Indonesia. Mereka juga merasa nyaman untuk tinggal di luar negeri, karena kebutuhan mereka akan lebih terpenuhi. Dengan tingkat ekonomi dan pendapatan yang tinggi kehidupan mereka akan lebih terjamin.
            Selain dari perspektif ekonomi, faktor sosial juga turut berpengaruh terhadap kasus ini. Kurangnya fasilitas dan sarana penunjang di indonesia dibandingkan luar negeri yang dianggap lebih memadai. Hal lain yang tidak kalah penting yaitu naiknya status sosial jika orang telah mampu belajar dan bekarya di luar negeri. Penghargaan yang kurang dari pemerintah juga menjadi alasan mereka hijrah ke luar negeri.
            Faktor gejolak politik di indonesia juga turut menjadi faktor utama orang-orang berprestasi ini pergi ke luar negeri. Pemberian beasiswa dari pihak tertentu kepada orang-orang berprestasi hanya sebagai intrik politik para politisi untuk mendapat citra yang baik dari masyarakat. Bayaknya kasus korupsi juga turut menjadi faktor koupsi dianggap telah mengurangi subsidi terhadap pendidikan, sehingga menyebabkan buruknya pendidikan di Indonesia. Politik yang seharusnya bertujuan untuk membentuk negara yang lebih baik malah menjadikan negar semakin rusak.
            Dari segi pendidikan dan budaya,  banyak faktor yang menyebabkan orang-orang berprestasi hijrah ke luar negeri. Pendidikan yang buruk dianggap menjadi salah satu faktor. Pendidikan buruk ini dapat terlihat dari kurangnya fasilitas-fasilitas pendidikan baik di tingkat dasar maupun perguruan tinggi.  Faktor kurangnya apresiasi dari pemerintah maupun masyarakat juga merupakan salah satu faktor dari segi budaya. Orang-orang berprestasi menganggap bahwa dirinya telah berkarya dan karya mereka patut untuk dihargai baik secara materi maupun non materi.
            Masalah-masalah di atas seharusnya dapat menjadi pembelajaran dan tantangan bagi pemerintah pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk berbenah agar orang-orang berprestasi tersebut tidak hijrah ke luar negeri. Pemerintah seharusnya lebih memberikan apresiasi baik berupa materi maupun non materi kepada orang-orang berprestasi. Selain itu bagi orang-orang berprestasi yang telah hijrah ke luar negeri tidak melupakan tanah kelahirannya. Setelah mereka mendapat ilmu dan pengalaman yang lebih, mereka dapat mengimplementasikan ilmunya di Indonesia. Masyarakat jua tidak sepantasnya pula selalu menilai negatif orang-orang berprestasi tersebut. Karena dari data survey mengatakan bahwa 90% orang berprestasi di luar negeri tersebut mengaku ingin kembali dan mengabdi di indonesia.







                                                                                   

Kreatifitas Diri

Kreatifitas Diri

Indonesia merupakan suatu negara dengan berbagai sumber daya, baik itu berupa sumber daya alam maupun sumber daya manusianya yang berlimpah. Selain itu indonesia juga merupakan negara yang sangat strategis untuk melakukan perdagangan internasional. Dengan berbagai keunggulan yang ada ini seharusnya Indonesia mampu memanfaatkannya dengan baik untuk mensejahterakan rakyatnya. Tak hanya itu saja indonesia yang merupakan salah satu negara tropis dengan keanekaragaman flora dan fauna serta berbagai keindahan alamnya yang seharusnya mampu dimanfaatkan indonesia sebagai salah satu sumber devisa negara yakni berupa pariwisata.
Namun kenyataan berkata lain, faktanya dengan berbagai keunggulannya Indonesia belum mampu menjadi negara yang maju. Selain itu tingginya angka pengangguran juga berakibat pada perekonomian masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih di bawah garis kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum mampu menjadi tolok ukur bagi kesejahteraan rakyat Indonesia, hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi tersebut belum merata dan sebagian besar belum bisa dirasakan oleh rakyat miskin. Sehingga muncul suatu istilah unik  “yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin”. Ironi memang jika melihat kekayaan sumber daya yang dimiliki indonesia dengan kenyataan yang terjadi di negeri ini.
Masalah ini sebenarnya bukanlah masalah yang baru bagi kita. Tidak sepantasnya pula kita menyalahkan pemerintah dalam masalah ini, karena pada hakikatnya pemerintah juga manusia yang sama seperti kita. Lagipula masalah ini adalah masalah negara Indonesia yang seharusnya semua rakyat Indonesia dapat tirut serta dalam mencari solusinya. Kita sebagai mahasiswa dan juga generasi muda sudah seharusnya dapat memikirkan masa depan bangsa kita. Dengan segala kemampuan dan ide kreatifitas kita, sudah seharusnya pula kita bisa mencari solusi dari masalah ini.
Di sini saya akan mencoba menganalisa satu dari sekian banyak masalah yang sedang dialami bangsa ini, yakni maslah ketenagakerjaan. Banyaknya tenaga kerja yang dimiliki negara ini serta tidak dibarenginya dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia membuat tingginya angka pengagguran yang ada di Indonesia. Pengangguran juga akan berimbas terhadap munculnya masalah-masalah lain, seperti kemerosotan moral, kriminalitas, dan banyak kasus-kasus lain. Program-program yang telah dijalankan pemerintah nampaknya belum begitu efektif bagi ketenagakerjaan Indonesia. Bahkan ada yang menyebut bahwa Indonesia adalah negara buruh/ pekerja.
Bukan hanya masalah pengangguran yang terjadi pada ketenagakerjaan di Indonesia. Tingginya tenaga kerja di Indonesia membuat nilai tenaga kerja Indonesia menjadi rendah. Hal ini mengakibatkan suatu masalah baru, yakni eksploitasi tenaga kerja atau perbudakan buruh yang saat ini menjadi sorotan publik dan berbagai media. Banyak faktor yang sebenarnya menyebabkan masalah ini. Tidak hanya rendahnya nilai buruh, kurangnya pengawasan dari pemerintah serta adanya campur tangan dari berbagai oknum yang tidak bertanggung jawab baik itu dari kepolisian maupun birokrasi.
Melihat masalah ketenagakerjaan yang begitu kompleks di atas perlunya adanya suatu solusi yang nyata dan sesuai. Maka dari itu perlu adanya kajian khusus untuk mencari solusi dari masalah ini. Banyak sekali sebenarnya solusi yang dapat ditawarkan untuk mengatasi masalah ini. Dari penekanan pertumbuhan penduduk melalui program KB (Keluarga Berencana) maupun program perbaikan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program yang telah dicanangkan pemerintah. Hal ini tinggal bagaimana kita menanggapi program-program pemerintah tersebut, apakah kita mendukung atau tidak.
Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mengatasi masalah ini. Potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki bangsa Indonesia seharusnya mampu untuk dioptimalkan dalam rangka mencapai kesjahteraan rakyat. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia adalah dengan melalui pendidikan. Sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia saat ini nampaknya belum efektif dan efisien untuk memperbaiki SDM bangsa ini.
Pendidikan yang berlaku di Indonesia dilaksanakan seakan hanya sebagai salah satu megaproyek pemerintah. Sehingga dalam sistem pendidikan ini setiap siswa maupun mahasiswa dipaksa untuk mengikuti segala aturan dalam kurikulum yang telah dibentuk pemerintah. Oleh karena itu, sudah saatnya untuk dilakukan perubahan sistem pendidikan Indonesia yang berlaku saat ini. Jangan sampai pendidikan di Indonesia hanya menjadi megaproyek pemerintah.
Alangkah baiknya jika sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia diubah dengan tujuan utama untuk menciptakan SDM yang ahli di suatu bidang tertentu. Sebagai contoh konkritnya, di suatu perguruan tinggi seharunya mata kuliah wajib yang dibebankan untuk setiap mahasiswa tidak terlalu banyak dan lebih memperbanya mata kuliah pilihan. Sehingga mahasiswa tidak harus mempelajari terlalu banyak mata kuliah yang mungkin tidak disukai dan diminatinya serta lebih menuntut mahasiswa memilih mata kuliah sesuai keinginannya untuk dapat dikembangkannya sendiri. Jadi, pada akhirnya nanti lulusan-lulusan dari perguruan tinggi adalah orang-orang yang mempunyai mental ahli dan berwirausaha, bakan lulusan yang siap mencari kerja.
Mungkin dari solusi yang saya tawarkan akan banyak pro dan kontra. Namun saya yakin jika sistem ini dapat dijalankan dengan baik dan tepat sasaran, maka bukan tidak mungkin akan berdampak positif pada ketenagakerjaan Indonesia. Lapangan pekerjaan akan semakin luas, karena lulusan perguruan tinggi nantinya akan mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Sehingga mampu mengurangi tingkat pengangguran yang terjadi di Indonesia yang secara tidak langsung diharapkan mampu mengelola potensi sumber daya alam Indonesia yang berlimpah.






Kepemimpinan

Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk melakukan kegiatan dalam rangka mempengaruhi orang-orang agar supaya bekerja dengan ikhlas untuk mencapai tujuan bersama (Terry, 1960). Dari definisi kemampuan tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa seorang pemimpin harus mampu mempengaruhi orang lain. Kita juga harus menydari bahwa setiap manusia terlahir di dunia ini sebagai seorang pemimpin, baik itu untuk memimpin dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Hal ini juga didukung oleh suatu hakikat bahwa setiap manusia adalah makhluk sosial. Maka dari itu, manusia tidak akan dapat terlepas dari hubungan atau interaksi antar manusia. Hal inilah yang menyebabkan manusia itu dapat menjadi pemimpin maupun seseorang yang dipimpin.
            Di sisni saya akan menceritakan salah satu penglaman saya ketika menjadi seorang pemimpin salah satu pengalaman tersebut adalah ketika saya memimpin jalannya rapat atau sebagai pimpinan sidang dalam rapat (musyawarah) anggota Lembaga Kegiatan Islam (LKI) FISIP UNS. Dalam acara tersebut saya berperan untuk menjadi pemimpin sidang yang diikuti oleh sekitar 40 peserta. Di situlah saya dituntut untuk dapat mempengaruhi para peserta sidang agar mereka dapat mengkondisikan diri mereka agar jalannya sidang tersebut dapat berlangsung lancar dan tertib dari awal hingga akhir.
            Dalam rapat tersebut saya harus dapat memposisiskan diri saya sebagai orang yang mengatur jalannya rapat tersebut. Saya dituntut untuk memilki dan mempunyai beberapa kriteria sifat-sifat tertentu. Sifat tersebut antara lain, 1) kekuatan. Kekuatan tersebut meliputi kekuatan jasmani dan rohani. Karena hal tersebut sangat penting bagi saya untuk mengatur orang-orang yang dapat dikatakan jumlahnya tidak sedikit. 2) mampu mengendalikan emosi. Artinya saya tidak boleh merasa kecewa jika ada orang lain yang berseberangan dengan pendapat kita serta kita harus mampu bersifat adil dan netral kepada semua peserta rapat.
            Hal lain yang harus saya miliki ketika memimpin jalannya rapat tersebut adalah 3) sifat dan kecakapan dalam hal berkomunikasi.saya dituntut untuk dapat menyampaikan informasi yang berkaitan dengan rapat tersebut kepada semua peserta sidang secara efektif dan efisien. Hal ini dimaksudkan agar nantinya informasi tersebut dapat dimengerti dan direalisasikan oleh semua peserta rapat. 4) kecakapan mengajar. Dalam hal ini saya dituntut untuk dapat menjadi seorang guru yang mampu memberikan petunjuk maupun keteladanan bagi semua peserta sidang. Meskipun dalam keadaan tersebut saya bukanlah orang yang paling tua, karena disitu juga ada kakak tingkat yang sudah pasti usianya lebih tua dari saya. Namun saya selaku pemimpin harus mampu memposisikan diri saya tanpa mengurang rasa hormat saya terhadap peserta yang lebih tua.
            Yang tak kalah pentingnya dalam sebuah kepemimpinan adalah gaya kepemimpinan. Hal ini dikarenakan setiap oang memilki gaya kepemimpinan yang berbeda satu sama lain. Sama halnya sepeti saya saat memimpin jalannya sidang tersebut. Dalam sidang tersebut saya menggunakan gaya kepemimpinan yang disebut dengan “The Participative”. Di mana gaya tersebut menuntut saya untuk selalu melibatkan peserta sidang untuk mengambil sebuah keputusan. Seperti halnya ketika kita akan melakukan suatu hal maka saya harus mengambil keputusan sesuai dengan kesepakatan forum. Hal ini dikarenakan pada dasarnya yang menjadi tujuan utama sidang tersebut adalah pengambilan keputusan secara musyawarah mufakat.
             Selalu harus memilki suatu gaya kepemimpinan saya juga harus memilki suatu konsistensi dalam gaya kepemimpinan tersebut. Saya dituntut untuk memiliki suatu ketegasan dalam segala hal. Jangan sampai saya terkesan plin-plan dalam sebuah pengambilan keputusan. Dikarekan hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kepercayaan para peserta rapat. Bisa saja karena suatu hal yang sepele akan merusak pandangan seseorang terhadap saya sebagai seorang pemimpin. Memang sulit bagi kita untuk mampu memahami semua karakter dari setiap peserta sidang yang kita pimpin yang pada dasarnya memiliki karakter masing-masing. Ada peserta yang sangat aktif sehingga dia banyak menyampaikan pendapat atau pertanyaan. Bahkan ada pula peserta yang pasif sehingga ketika ia mengikuti sidang dari awal hingga akhir hanya diam. Dalam hal ini saya selaku pemimpin harus mampu membagi atau memberikan porsi yang adail bagi setiap peserta. Bagaimanapun caranya saya harus dapat membagi hak dan kewajiban peserta secara adil dan netral.
            Menjadi pimpinan sidang/rapat tersebut memang bukanlah pengalaman yang pertama bagi saya dalam memimpin suatu hal. Saya pernah menjadi pemimpin regu pramuka, pemimpin regu lomba, dan koordinator seksi dalam sebuah kepanitiaan. Bagi saya menjadi pemimpin memang pada awalnya tidaklah mudah tapi lambat laun jika kita sering dan mau belajar menjadi pemimpin bukan tidak mungkin bahwa menjadi pemimpin bukanlah hal yang sulit lagi bagi kita. Ketika menjadi seorang pemimpin saya belajar untuk melatih keberanian, percaya diri dan bertanggungjawab. Hal ini nantinya akan bermanfaat bagi kita ketika kita masuk di dunia pekerjaan. Karena tidak mungkin suatu pekerjaan itu dilakukan tanpa adanya kerjasama dengan orang lain dan tanpa seorang pemimpin.
            Pada akhirnya sidang yang saya pimpin dapat berjalan dengan lancar dari awal hingga akhir. Meskipun saya merasa masih banyak kekurangan dari saya dalam memimpin sidang tersebut. Saya masih merasa kurang pecaya diri dan berani dalam mengambil suatu keputusan. Hal inilah yang nantinya akan saya jadikan koreksi bagi diri saya untuk ke depannya. Saya berharap pengalaman saya menjadi pemimpin sidang ini dapat menjadi sarana saya untuk belajar mengenai suatu arti kepemimpinan secara langsung. Dan saya juga berharap pengalaman ini kelak nantinya akan mampu menjadi bekal saya untuk masa depan saya. Karena pengalaman adalah guru yang paling berharga.

Popular Posts